Pada Trump Kita Takluk

Made Supriatma Trump menerapkan 19% tarif untuk barang-barang Indonesia yang akan dijual di AS. Angka ini memang tidak sebesar sebelumnya yang 32%.  Sebaliknya, Trump berhasil memaksakan barang-baran…
Pada Trump Kita Takluk

Lahiran Anak Kawan

Pagi ini saya mau ke rumah sakit di jalan Kawi. Rumah Sakit Melati Husada. Semalam, sekira maghrib saya mendapat kabar, istri teman saya sudah di RS tersebutuntuk proses lahiran.

Sedianya, semalam juga saya berencana meluncur segera setelah mendapat kabar. Namun saya urung. Hujan, juga angin yang tak hentinya-hentinya sejak maghrib tak memungkin saya untuk pergi.

Apalagi di rumah istri tinggal seorang diri. Tentu saja saya tak tega meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti itu.


Mendapat kabar kelahiran tersebut membuat saya sangat bahagia, karena suami dari perempuan yang hendak melahirkan tersebut adalah satu dari sedikit kawan seperjuangan di warung kopi.

Menurut cerita kawan-kawan, momen kelahiran adalah momen paling mendebarkan dalam hidup. Seorang suami yang menunggui istri di rumah sakit diselimuti bermacam-macam perasaan tak karuan. Mulai dari panik, gelisah, deg-degan, dan lain-lain.

Keadaan tersebut membuat suami dalam tekanan, tak kurang dari tekanan yang dialami istri yang sejak berbaring di kamar menunggu proses lahiran tiba.

Saya hanya bisa membayangkan keadaan tersebut, karena saya pun belum menjadi ayah. Iya, belum.

Tempo hari adalah penyebabnya. Liburan akhir tahun tempo hari adalah hari penuh kebahagiaan sekaligus penderitaan batin. Liburan akhir tahun sejak mula sudah terencana jauh-jauh hari sebelum jatuh tanggal. Pertama, adik sepupuh di kampung hendak nikahan. Kedua, liburan akhir tahun adalah liburan panjang.

Dalam benak saya berangan-angan, liburan panjang akan sangat berguna untuk mengisi waktu luang dengan menerjemah. Iya, saya memang sedang giat-giatnya menerjemah teks-teks berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Hasil terjemahan tersebut akan saya gunakan untuk melengkapi profil pribadi di direktori-direktori penerjemahan yang saya ikuti.


Hari-hari menjelang liburan akhir tahun itu saya memang dalam keadaan on fire. Sejak tinggal di kota baru ini perspektif saya tentang pekerjaan berubah 180 derajat. Bila waktu berangkat dari rumah beberapa bulan sebelumnya saya masih berharap pekerjaan dan penghasilan dari melamar ke perusahaan-perusahaan.

Tapi, setelah tinggal beberapa minggu, dan setelah bertemu dengan banyak kawan lama saya menjadi yakin saya dapat mendayagunakan kemampuan menejemahkan saya untuk mendapat pekerjaan, sekaligus penghasilan.

Balik lagi ke cerita di atas: lahiran bukan saja momentum baru dalam hidup, melainkan ia dapat mengubah banyak hal dalam tabiat, pemikiran, dan mentalitas seseorang.

Ada banyak cerita seputar itu.

Ada seorang kawan perempuan yang sudah bertahun-tahun menikah, tapi tak kunjung sampai di momentum lahiran. Pendek kata, dia belum bisa hamil. Ada lagi kawan yang sampai 2 atau 3 kali menunggui istrinya di rumah sakit untuk lahiran, namun nyawa anaknya tak tertolong. Begitu lahiran, mengangis sejenak, lalu hening. Tangisnya tak kedengaran lagi. Malaikat sudah membawanya pergi.

Yang lain lagi ada kawan yang hanya sampai hamil saja, namun di tengah jalan ia kandas. Ini persis yang saya alami tempo hari. Istri saya tak bisa membendung laju darah yang terus mengalir dari kewanitaannya, hingga akhirnya dokter memvonisnya bahwa ia positif keguguran. Begitu mengetahui bahwa ia keguguran, air matanya tumpah tak tertahankan.

Yang saya ceritakan ini adalah lahiran anak pertama.

Kenapa lahiran anak pertama bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang, mungkin dapat saya bayangkan: pertama, sejak lahiran anak tersebut, seorang suami beralih status ke ayah; istri ke ibu.

Hubungan suami-istri tidak lagi sebatas hubungan dua orang bujang yang saling berbagi kehangatan. Dengan kehadiran si jabang bayi, nilai-nilai moral yang sudah turun-temurun mereka warisi dengan sendirinya memenuhi ruang kesadaran kesadaran baru. Yakni, bahwa terdapat sekian kewajiban yang harus mereka tunaikan.

Ada bertumpuk-tumpuk ‘pekerjaan rumah’ yang tidak saja menuntut biaya materiil tak sedikit, namun juga kesabaran, keuletan, ketangguhan jiwa, ketahanan batin, dan lain-lain yang mesti mereka jalani. Karena, anak adalah anugerah langit yang dalam tubuh fisiknya yang rapuh terdapat ruh yang abadi. Agar tubuh fisik sehat dan tidak malnutrisi, orangtua harus menyediakan nutrisi-nutrisi yang diperlukan. Begitu pun dengan ruhani.

Kedua, karena peralihan status, sepasang suami-istri diperhadapkan dengan banyak peralihan dalam banyak soal, baik soal-soal yang menyangkut diri, lingkungan, maupun dengan pasangan sendiri.

Sampai di tahap itu, ada semacam kebutuhan untuk saling beradaptasi. Tak jarang, karena kegagalan beradaptasi dan buruknya egosentrisme masing-masing, biduk keluarga berantakan.

Itu saja yang dapat saya tulis untuk menyambut kelahiran anak pertama kawan saya Ahmad Hariri yang jatuh pada tanggal 22 Januari 2019.

OldestNewer

Post a Comment